Proses Kognitif dalam Pembelajaran
Proses-proses
kognitif merupakan kegiatan intelektual yang terjadi di dalam otak manusia yang
berfungsi meramu dan memindahkan informasi dari satu bak ke bak memori lainnya.
Kegiatan intelektual yang dimaksud adalah perhatian (attention) , persepsi (perception),
pembiasaan (rehearsal), penyandian
(encoding), dan pemanggilan (retrieval). Kegiatan inilah yang sangat
berperan bagi manusia dalam proses memahami sesuatu informasi hingga menjadi
pengetahuan-pengetahuan untuk kebutuhan hidupnya.
1. Perhatian
(Attention)
Di
dalam ruangan yang sedang ditempati berdiskusi saat ini, terdapat stimulan yang
tak terhitung jumlahnya. Benda-benda yang tampak oleh penglihatan, suara kursi
yang berderik, bau-bauan yang silih berganti, udara panas dan dingin yang
ditangkap oleh indrra perasa, semuanya merupakan contoh stimulant yang
kehadirannya nyaris tak disadari. Apabila sekarang ini penglihatan kita
digerakkan untuk membaca kalimat-kalimat yang tertulis pada paragraph ini, atau
dengan segaja mendengarkan suara orang yang membacakan paragraph ini, maka
saraf-saraf di otak kita sedang melakukan lebih muda baginya menanggapi materi
itu dan kemungkinan penanggapannya akan lebih baik dibandingkan dengan orang
yang belum memiliki schemata tentang hal tersebut.
2. Persepsi
(Perception)
Hal
lain adalah harapan yang diinginkan untuk dialami. Persepsi seseorang juga
dipengaruhi harapan-harapannya untuk mengalami sesuatu. Misalnya, anda
diberitahu bahwa si A adalah orang yang baik, maka pada saat itu anda sudah
mempunyai persepsi positif terhadap A. harapan anda tentunya akan berhadapan
dengan si A yang baik. Pada saat anda bertemu dengan si A, kemudian apa yang
anda harapkan tidak sesuai kenyataan, atau si A itu kejam misalnya, maka
praktis pada saat itu harapan anda sirna dan persepsi anda tentang si A juga
berubah.
Untuk mengecek
benar –tidaknya persepsi atau tanggapan pebelajar, dapat dilakukan dengan
memberikan pertanyaan terbuka atau menerangkan. Artinya, pertanyaan itu memungkinkan
beragam jawaban. Bila ternyata siswa bisa menjelaskan dengan baik, maka
persepsinya sudah benar. Kalau tidak, hendaknya dibetulkan kembali.
3. Pembiasaan
( Rehearsal )
Pembiasaan dapat dilakukan dengan melatih diri atau
mengulang-ulangi informasi agar bisa dipertahankan di bak ingatan atau
diteruskan ke bak kenangan. Hal ini dilakukan oleh otak manusia karena
terbatasnya kapsitas dan kurun waktu bak ingatan. Cara yang bisa dilakukan untuk memindahkan
informasi yang penting ke bak kenangan adalah pembiasaan. Ada dua jenis
pembiasaan yang dapat dilakukan, yaitu pembiasaan yang sinambungan dan
pembiasaan yang relaboratif. Pembiasaan yang sinambung misalnya kegiatan shalat
atau menghafal surah, dilakukan secara berulang-ulang tanpa perubahan bentuk.
Adapun pembiasaan elaborative atau menggunakan batu loncatan adalah
menghubungkan informasi yang akan diingat dengan menggunakan informasi lain
yang ada di bak ingatan. Misalnya, bila anda tahu bahwa tahun 1945 adalah tahun
kemerdekaan Indonesia, kemudian anda memiliki nomor akses ATM juga 1945, maka
untuk mengingatnya, anda dapat mengingat tahun kemerdekaan terlebih dahulu. Hal
ini sejalan dengan penegrtian “loncatan berpikir”.
4. Penyandian
( Encoding )
Encoding akan terjadi bila seseorang membentuk bayangan
informasi tentang sesuatu di dalam benaknya kemudian mengistirahatkannya dalam bak
kenangan. Kegiatan encoding merupakan kegiatan yang mengatur dan mengaitkan
informasi baru dengan informasi yang sudah ada di bak kenangan. Maksudnya, bila
seseorang sudah memiliki pengetahuan dalam tentang sesuatu, maka akan lebih
mudah baginya memahami sebuah informasi baru dengan cara menghubungkan informaisi
lama dengan informasi yang baru saja diperoleh. Semakin banyak schemata,
semakin besar kemungkinannya untuk melakukan kegiatan encoding.
Cara yang dapat dilakukan untuk encoding adalah dengan
mengulang-ulang informasi tersebut dan mengupayakan agar kegiatan belajar
sedapat mungkin bermakna. Kebermaknaan menggambarkan sejumlah hubungan/asosiasi
antara satu ide dengan ide lainnya. Seseorang yang sudah memiliki pengetahuan
dasar tentang perkembangan mental anak usia 1-3 tahun akan lebih mudah memahami
prilaku anak di usia tersebut dibangdingkan dengan seseorang yang sama sekali
belum memilki pengetahuan dasar tentang hal itu. Bagi yang sudah berskemata
akan merasakan kebermaknaan dalam kegiatan memahami informasi baru tersebut dan
lebih mudah baginya untuk menyimpannya di bak kenangan, karena jenis
pengetahuannya yang sama.
Hal ini yang perlu diperhatikan bahwa untuk membuat
informasi lebih bermakna dan lebih mudah disimpan di bak kenangan dapat
dilakukan dengan menguraikan atau memproses informasi itu lebih dalam. Semakin
dalam informasi itu diproses, semakin banyak penghubungan yang bisa dikaitkan
dengan informasi tersebut. Dengan sendirinya,
informasi itu
akan lebih bermakna. Misalnya, untuk memberikan pengetahuan pada siswa mengenai
sebuah planet, tidak cukup hanya dengan
menjelaskan nama dan posisinya. Untuk membuat informasi itu lebih bermakna,
perlu diuraikan juga mengenai ukuran, kala rotasi, suhu, jaraknya ke matahari,
dan keterkaitan lainnya dalam tata surya sehingga diharapkan kelak akan lebih
mudah menghubungkannya dengan informasi baru.
5. Lupa
( kegagalan dalam Retrieval )
Pembahasan
mengenai memori atau ingatan dan prosesnya tidak lengkap bila belum membahas
masalah ‘lupa”. Lupa atau melupakan adalah kegagalan dalam menginat. Informasii
yang ditampung di bak kesan dilupakan bila tidak segera diproses. Ingatan akan
hilang bila tidak sering diulang-ulang. Kenangan juga masih bisa terjadi
kerusakan dalam fungsi memori dan sebagainya.
Terjadinya
lupa dapat disebabkan oleh adanya informasi lain yang hampir sama dan
mengacaukan pemahaman seseorang. Misalnya, dalam pelajaran bahasa inggris
mengenai penggunaan to be. Pada pengenalan konsep to be. Diartikan bahwa bila
kalimat akan menggunakan kara sesudah subyek, maka to be tidak boleh digunakan.
Konsep ini telah mengakar sampai pada saat pembelajar menemukan bentuk pasif
dan progresif. Dalam kasus tersebut, pembelajaran akan ragu dengan pemahaman
konsep awalnya mengenai to be. Bila bentuk pasif dan progressif dijelaskan
kepadanya, mungkin akan terjadi kekacauan pemahaman tentang penggunaan to be
karena bisa juga digunakan dalam kalimat verbal lainnya, pebelajar akan
menggunakan to be secara serampangan akibat adanya ketergangtungan oleh bentuk
pasif dan progresif tersebut.
Untuk
mengatasinya, disarankan muntuk memberikan review dan perbandingan dalam
penggunaan konsep yang serupa. Selain itu, dapat juga diajarkan secara
berdekatan dengan menjelaskan persamaan dan perbedaannya.
Lupa
juga dapat terjadi karena informasi yang tersimpan dalam bak kenangan tidak
dapat lagi dipanggil karena informasinya sudah tidak bisa ditemukan. Informasi
yang tersimpan dalam bak kenangan tetap berada di sana selamanya, hanya tidak
bisa ditemukan lagi. Inillah yang disebut dengan gejala tif-of-tongue ( ujung
lidah ) atau kira-kira dapat diterjemahkan dengan istilah kehabisan akal atau
mati akal atau buntu otak.
Untuk mengatasi
hal tersebut, peran konteks diharapkan dapat membantu. Dalam usaha mengiungat
suatu kesan, cobalah terawangkan pikiran pada konteks-konteks yang mungkin
sesuai dengan informasi yang baru saja diterima. Misalnya, untuk mengingat yang
seseorang yang pernah dikenal pada suatu kesempatan, perlu mengganti beberapa
konteks yang kira-kira sesuai dengan orang itu dan keluar dari konteks sekarang.
Memanfaatkan konteik adalah salah satu cara membantu mengingatkan. Oleh karena
itu, sangat dianjurkan bagi pengajar untuk memberikan beberapa masalah memulai
suatu materi. Masalah-masalah tersebut akan dijadikan sebagai schemata yang
akan dihubungkan dengan materi yang akan
segera diajarkan. Nantinya, konteks yang berupa masalah dapat digunakan untuk
mengingat konsep yang diajarkan sekarang. Jadi,
masalah-masalah atau pertanyaan – pertanyaan yang diajukan sebagai konteks
suatu informasi dapat digunakan muntuk memanggil informasi melalui konteks
tadi.
Permasalahan : banyak siswa yang gampang melupakan pembelajaran yang telah diberikan oleh guru, sebagai guru apa usaha yang bisa kita lakukan agar siswa dapat mengingat pembelajaran yang kita berikan dalam jangka panjang!
Menurut saya...supaya siswa dapat mengingat pembelajaran dengan efisien...kita sebagai guru hendaknya dapat memberikan pembelajaran matematikanyg bermakna...sehingga hal itu tentu akan selalu di ingat oleh siswa...karena pembelajarannya di mulai dari kehidupan nyata...
BalasHapusmenurut saya, yang harus dilakukan ialah proses pembiasaan dalam pemberian pelajaran, materi pelajaran yang diberikan harus bermakna dan memiliki kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. nah sebelum pembelajaran guru harus memberikan pancingan terhadap siswa untuk mengingat pembelajaran sebelumnya.
BalasHapusMenurut saya agar pmbelajaran efektif dan diingat oleh siswa, guru perlu melibatkan siswa dlm pembelajaran dan meningkatkan kebermaknaan belajar matematik tdk hny hitung2an saja. terima kasih
BalasHapusPembelajaran yang diberikan oleh guru harus pembelajaran yang bermakna, yang dekat dengan kehidupan siswa
BalasHapusCaranya dengan melaksanakan pembelajaran yang bermakna. Dengan mengabtraksi kejadian nyata yang ada disekitar peserta didik menjadi simbol dan angka.
BalasHapusguru bisa menggunakan cara pembelajaran bermakna, sehingga siswa mampu mengingat jangka panjang
BalasHapusPembelajaran tidak hanya rumus-rumus umum tapi juga konsep atau pengaplikasiannya
BalasHapus