Artikel Penilaian Afektif
PENILAIAN AFEKTIF
DALAM PEMBELAJARAN
Sukanti
Abstrak
Terdapat empat karakteristik afektif yang penting
dalam pembelajaran yaitu: (1) minat, 2) sikap, 3) konsep diri, dan 4) nilai.
Penilaian afektif bertujuan: 1) untuk memperoleh informasi minat peserta didik terhadap mata pelajaran
Akuntansi yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkannya jika ternyata minat
peserta didik rendah, 2) untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran Akuntansi, hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi
pembelajaran yang tepat untuk peserta didik, 3)
untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, informasi ini
dapat digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh peserta
didik untuk menentukan jenjang karir dan 4)
untuk mengungkap nilai individu, informasi yang diperoleh ini berupa nilai yang positif dan yang negatif, hal-hal yang
positif diperkuat dan yang negatif diperlemah dan akhirnya dihilangkan.
Pengukuran afektif dapat dilakukan dengan angket dan pengamatan. Terdapat
sepuluh langkah yang harus diikuti dalam pengembangan instrumen afektif yaitu:
1) menentukan spesifikasi instrumen, 2) menulis instrumen, 3) menentukan skala
pengukuran, 4) menentukan sistem penskoran, 5) menelaah instrumen, 6) melakukan
uji coba, 7) menganalisis instrumen, 8) merakit instrumen, 9) melaksanakan
pengukuran, dan 10) menafsirkan hasil pengukuran.
Kata kunci:
penilaian, afektif
A.
Pendahuluan
Tujuan
pembelajaran meliputi tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
Penilaian aspek kognitif dan psikomotor sudah dilaksanakan oleh para pendidik,
sedang aspek afektif belum memperoleh perhatian seperti pada kedua aspek
lainnya. Masalah afektif merupakan hal yang penting, namun implementasinya
masih kurang, karena merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak
semudah seperti pembelajaran kognitif. Ranah afektif harus nampak dalam proses
dan hasil belajar yang dicapai peserta didik oleh karena itu harus dinilai
hasil-hasilnya. Menurut Popham 1995 dalam Djemari Mardapi (2004) ranah afektif
menentukan keberhasilan seseorang. Orang yang tidak memiliki kemampuan afektif yang baik, sulit mencapai
keberhasilan studi yang optimal. Hasil belajar kognitif dan psikomotorik akan optimal jika peserta didik mempunyai
kemampuan afektif tinggi. Oleh karena
itu pendidikan harus diselenggarakan dengan memberikan perhatian yang lebih
baik menyangkut ranah afektif ini. Pencapaian kemampuan kognitif dan psikomotor
dalam bidang akuntansi tidak akan memberi manfaat bagi masyarakat, apabila
tidak diikuti dengan kemampuan afektif. Kemampuan lulusan suatu jenjang
pendidikan bisa baik jika digunakan untuk membantu orang lain, namun bisa
tidak baik bila kemampuan ini digunakan
untuk merugikan pihak lain. Selain itu pengembangan ranah afektif di sekolah
akan membawa pengaruh yang sangat positif dalam kehidupan peserta didik selanjutnya, baik di rumah maupun di
lingkungan luar. Melalui tulisan ini akan dibahas konsep afektif, karakteristik
afektif, tujuan penilaian afektif, dan pengembangan instrumen penilaian afektif.
B.
Pembahasan
1. Konsep Afektif
Afektif berhubungan
dengan emosi seperti perasaan, nilai, apresiasi, motivasi dan sikap. Terdapat
lima kategori utama afektif dari yang paling sederhana sampai kompleks
yaitu: penerimaan, tanggapan,
penghargaan, pengorganisasian, dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai atau internalisasi nilai. Receiving (penerimaan) adalah kesediaan untuk
menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Contohnya mendengarkan orang
lain dengan seksama, mendengarkan dan mengingat nama seseorang yang baru
dikenalnya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian,
mempertahankannya, dan mengarahkannya. Tugas pendidik adalah mengarahkan
perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif.
Indikatornya adalah peserta didik: bertanya, memilih, mendeskripsikan,
mengikuti, memberikan, mengidentifikasikan, menyebutkan, menunjukkan,
menyeleksi, mengulangi, menggunakan.
Responding (tanggapan) adalah memberikan reaksi terhadap fenomena yang
ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam
memberikan tanggapan. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan
fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini
adalah menekankan pada pemerolehan respon, berkeinginan memberi respon, atau kepuasan
dalam memberi respon. Contohnya berpartisipasi di kelas, bertanya tentang
konsep, model dan sebagainya agar memperoleh pemahaman, dan menerapkannya.
Indikatornya adalah peserta didik: menjawab, membantu, mendiskusikan,
menghormati, berbuat, melakukan, membaca, memberikan, menghafal, melaporkan,
memilih, menceritakan, menulis. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah
minat, yaitu hal-hal yang menekankan
pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misal kesenangan
membaca buku Akuntansi. Tugas pendidik dalam hal ini adalah berupaya agar
peserta didik senang dalam mempelajari Akuntansi. Valuing (penghargaan) berkaitan dengan
harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku.
Contohnya peka terhadap perbedaan individu dan budaya, menunjukkan kemampuan
memecahkan masalah, mempunyai komitmen. Penilaian berdasar pada internalisasi
dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
Indikatornya adalah peserta didik: melengkapi, menggambarkan, membedakan,
menerangkan, mengikuti, membentuk, mengundang, menggabung, mengusulkan,
membaca, melaporkan, memilih, bekerja, mengambil bagian, mempelajari. Dalam
tujuan pembelajaran penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap.
Organization
(pengorganisasian) berkaitan dengan memadukan nilai-nilai yang berbeda,
menyelesaikan konflik, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
Contohnya mengakui adanya kebutuhan keseimbangan antara kebebasan dan
tanggungjawab, menyelaraskan antara kebutuhan organisasi, keluarga dan diri
sendiri. Indikatornya adalah peserta didik: mengubah, mengatur, menggabungkan,
membandingkan, melengkapi, mempertahankan, menerangkan, merumuskan,
menggeneralisasikan, mengidentifikasikan, mengintegrasikan, memodifikasikan,
mengorganisir, menyiapkan, menghubungkan, mengsintesiskan.
Characterization
by a Value or Value Complex (karakterisasi berdasarkan nilainilai) berhubungan
dengan memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga
menjadi karakteristik gaya-hidupnya. Contohnya menunjukkan kemandiriannya saat
bekerja sendiri, kooperatif dalam kegiatan kelompok, objektif dalam memecahkan masalah, menghargai
orang berdasarkan yang mereka katakan bukan siapa mereka. Indikatornya adalah
peserta didik: membedakan menerapkan, mengusulkan, memperagakan, mempengaruhi,
mendengarkan, memodifikasikan, mempertunjukkan, menanyakan, memecahkan,
menggunakan.
Menurut
Sukardi (2008) dalam konteks evaluasi pembelajaran penggunaan kata kerja pada
setiap tingkatan ranah afektif, juga dapat digunakan sebagai acuan dalam
membuat item-item tes sesuai dengan tingkatan pengetahuan siswa.
2. Karakteristik
Afektif
Zaenal
Arifin. (2009) menjelaskan ada dua hal yang berhubungan dengan penilaian
afektif yang harus dinilai. Pertama, kompetensi afektif yang ingin dicapai
dalam pembelajaran meliputi tingkatan pemberian respons, apresiasi, penilaian
dan internalisasi. Kedua, sikap dan
minat peserta didik terhadap mata pelajaran dan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran terdapat empat tipe karakteristik afektif yang penting
yaitu sikap, minat, konsep diri dan nilai.
Sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara
positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang. Misalnya
objeknya adalah sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran Akuntansi. Seharusnya sikap peserta didik terhadap mata pelajaran Akuntansi lebih
positif dibanding sebelum mengikuti proses pembelajaran tersebut.
Perubahan sikap ini merupakan indikator keberhasilan pendidik dalam
proses pembelajaran. Oleh karena itu pendidik harus membuat rencana
pembelajaran termasuk pengalaman pembelajaran yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Dengan sikap positif dalam diri
peserta didik akan lebih mudah diberi motivasi dan akan lebih mudah menyerap
materi pelajaran yang diajarkan. Penilaian sikap pada sekolah menengah kejuruan
ada dua yaitu sikap mengikuti pembelajaran sehari-hari dan sikap dalam
melaksanakan suatu pekerjaan produktif. Sikap mengikuti pembelajaran bersumber
dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan guru mata pelajaran,
hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Penilaian
sikap dalam melaksanakan pekerjaan idealnya dilakukan oleh dua penilai yaitu
unsur eksternal (dari industri) dan internal (guru), yang mengacu pada
pencapaian kriteria pada setiap kompetensi. Sikap yang dinilai adalah sikap yang dipersyaratkan
untuk melakukan suatu pekerjaan.
Minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu aktivitas tanpa
ada yang menyuruh. Minat berhubungan dengan perhatian, seseorang yang menaruh
minat pada mata pelajaran tertentu cenderung untuk memperhatikan mata pelajaran
tersebut. Dengan demikian peserta didik
yang berminat pada materi Akuntansi akan cenderung memperhatikan mata
pelajaran tersebut. Tugas pendidik adalah meningkatkan minat tersebut jika
minat peserta didik rendah. Indikator minat antara lain: adanya perasaan suka,
ketertarikan, perhatian, kesesuaian, kecenderungan untuk menindaklanjuti. Nilai
merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang
dianggap baik dan yang dianggap jelek. Beberapa ranah afektif yang tergolong
penting adalah a. Kejujuran: peserta
didik harus belajar untuk menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang
lain b. Integritas: peserta didik harus dapat dipercaya oleh orang lain, mengikat pada kode nilai. c. Adil: peserta
didik harus berpendapat bahwa semua orang memperoleh perlakuan hukum yang sama
d. Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara demokratis harus memberi
kebebasan secara maksimum kepada semua orang. Konsep diri adalah evaluasi yang
dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimilikinya. Konsep
diri ini penting bagi peserta didik untuk menentukan jenjang karir mereka yaitu dengan mengetahui kekuatan dan
kelemahan diri sendiri maka bisa dipilih alternatif karir yang tepat bagi
dirinya. Informasi tentang konsep diri
peserta didik ini penting bagi pendidik untuk memotivasi belajar peserta didik
dengan tepat.
Menurut
Nana Sudjana (2008) hasil belajar ranah afektif dapat menjadi hasil belajar
ranah psikomotor jika siswa menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai
dengan makna yang terkandung dalam ranah
afektif sehingga akan nampak sebagai berikut:
Hasil belajar afektif Hasil belajar psikomotor Kemauan untuk menerima
pelajaran dari guru Segera memasuki kelas pada waktu guru datang dan duduk
paling depan dengan mempersiapkan kebutuhan belajar Perhatian siswa terhadap
apa yang dijelaskan guru Mencatat bahan pelajaran dengan baik dan sistematis
Penghargaan siswa terhadap guru Sopan,
ramah dan hormat kepada guru pada saat
guru menjelaskan pelajaran Hasrat
untuk bertanya kepada guru Mengangkat tangan dan bertanya kepada guru mengenai
bahan pelajaran yang belum jelas Kemauan untuk mempelajari bahan pelajaran
lebih lanjut Ke perpustakaan untuk belajar lebih lanjut atau meminta informasi
kepada guru tentang buku yang harus dipelajari atau segera membentuk kelompok
untuk diskusi Kemauan untuk menerapkan hasil pelajaran Melakukan latihan
diri dalam memecahkan masalah
berdasarkan konsep bahan yang telah diperolehnya atau menggunakannya dalam
praktik kehidupannya
Pencapaian
kemampuan kognitif dan psikomotor dalam bidang akuntansi tidak akan memberi
manfaat bagi masyarakat, apabila tidak diikuti dengan kemampuan afektif.
Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan bisa baik jika digunakan untuk
membantu orang lain, namun bisa tidak
baik bila kemampuan ini digunakan untuk merugikan pihak lain.
3.
Tujuan Penilaian Afektif
Seorang
pendidik sebaiknya mengetahui afektif peserta didik sehingga dapat diketahui
status afektif peserta didiknya. Jika afektif tinggi maka perlu
mempertahankannya, jika rendah perlu upaya untuk meningkatkannya. Suharsimi
Arikunto (2003) menjelaskan pengukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan
setiap saat (dalam arti pengukuran formal) karena perubahan tingkah laku siswa
tidak dapat berubah sewaktu-waktu. Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu
yang relatif lama. Demikian juga pengembangan minat dan penghargaan serta
nilai-nilainya. Sasaran penilaian afektif adalah perilaku peserta didik bukan
pengetahuannya. Djemari Mardapi (2004) menjelaskan sesuai dengan karakteristik
afektif dalam proses pembelajaran adalah
minat, sikap, konsep diri dan nilai maka tujuan penilaian afektif adalah: a.
Untuk memperoleh informasi minat peserta didik terhadap mata pelajaran
Akuntansi yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran Akuntansi jika
ternyata minatnya rendah. b. Untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran Akuntansi. Sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran dapat positif atau negatif. Hasil pengukuran
sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat untuk peserta
didik. c. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Peserta didik
melakukan evaluasi terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh peserta didik untuk
menentukan jenjang karir. d. Untuk mengungkap nilai individu. Informasi yang
diperoleh ini berupa nilai yang positif
dan yang negatif. Hal-hal yang positif diperkuat dan yang negatif diperlemah
dan akhirnya dihilangkan.
4.
Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif
Menurut
Djemari Mardapi (2004) terdapat sepuluh langkah yang harus diikuti dalam
pengembangan instrumen penilaian afektif: a) menentukan spesifikasi instrumen,
b) menulis instrumen, c) menentukan skala pengukuran, d) menentukan sistem
penskoran, e) menelaah instrumen, f) melakukan uji coba, g) menganalisis
instrumen, h) merakit instrumen, i) melaksanakan pengukuran, dan j) menafsirkan
hasil pengukuran.
a.
Menentukan spesifikasi instrumen.
Spesifikasi
instrumen terdiri dari tujuan dan kisi-kisi instrumen. Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh
informasi terhadap minat peserta didik
terhadap mata pelajaran Akuntansi yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan
minat peserta didik tersebut terhadap mata pelajaran Akuntansi. Instrumen sikap bertujuan untuk
mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran Akuntansi. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran
dapat positif atau negatif. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan
strategi pembelajaran yang tepat untuk peserta didik. Instrumen konsep diri
bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Peserta didik
melakukan evaluasi terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh peserta didik untuk
menentukan jenjang karir. Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai
individu. Informasi yang diperoleh ini
berupa nilai yang positif dan yang
negatif. Halhal yang positif diperkuat dan yang negatif diperlemah dan akhirnya
dihilangkan. Kisi-kisi merupakan tabel
yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Kisi-kisi pada dasarnya
berisi tentang definisi konseptual yang ingin diukur, kemudian ditentukan
definisi operasional dan selanjutnya diuraikan menjadi sejumlah indikator.
Indikator ini merupakan acuan untuk menulis instrumen. Pertanyaan yang ditulis
ini berdasar indikator. Tiap indikator dapat ditulis dua atau lebih
pertanyaan.
b.
Menulis instrumen.
Terdapat
empat aspek penting dari ranah afektif dalam proses pembelajaran yaitu sikap,
minat, konsep diri dan nilai. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap
peserta didik terhadap mata pelajaran Akuntansi adalah dengan angket. Pertanyaan
tentang sikap meminta peserta didik menunjukkan perasaan positif atau negatif terhadap mata pelajaran
Akuntansi. Kata-kata yang dapat digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan pada
arah perasaan seseorang misalnya:
menerima-menolak, menyenangi-tidak menyenangi, baik-buruk, diinginkantidak
diinginkan. Indikator sikap terhadap mata pelajaran akuntansi misalnya: membaca buku Akuntansi, belajar Akuntansi,
interaksi dengan guru Akuntansi, mengerjakan tugas Akuntansi, diskusi tentang
akuntansi, memiliki buku Akuntansi. Instrumen penilaian minat bertujuan untuk
memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap suatu mata pelajaran
yang selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik pada
mata pelajaran tersebut. Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan
suatu objek. Indikator minat, misalnya
minat terhadap mata pelajaran Akuntansi:
mengetahui kemanfaatan belajar Akuntansi, usaha memahami Akuntansi, membaca
buku Akuntansi, bertanya di kelas, bertanya pada teman, bertanya pada orang
lain, mengerjakan soal Akuntansi. Instrumen konsep diri bertujuan untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Informasi kekuatan dan
kelemahan diri sendiri digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya
ditempuh oleh peserta didik. Konsep diri
adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata
pelajaran. Indikator konsep diri tentang akuntansi misalnya perasaan sulit mudahnya mata pelajaran
Akuntansi, keunggulan dan kelemahan dalam mempelajari Akuntansi. Nilai
seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan berbuat.
Nilai adalah keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan,
misal keyakinan akan kemampuan peserta didik, keyakinan tentang kinerja
pendidik. Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan
individu.
Indikator
nilai dalam bidang akuntansi misalnya keyakinan tentang prestasi belajar
Akuntansi, keberhasilan belajar peserta didik, keyakinan harapan orang tua,
keyakinan atas dukungan masyarakat, keyakinan atas sekolah bahwa sekolah dapat
mengubah nasib mereka. Selain
menggunakan angket, informasi tentang afektif dapat digali dengan pengamatan.
Pengamatan ranah afektif dapat dilakukan
di tempat proses pembelajaran. Untuk mengetahui keadaan ranah afektif peserta
didik, pendidik harus menyiapkan diri untuk
mencatat setiap tindakan yang muncul dari peserta didik yang berkaitan
dengan indikator ranah afektif peserta didik tersebut. Oleh karena itu perlu
ditentukan indikator substansi yang akan diukur.
c.
Menentukan skala instrumen.
Secara
garis besar skala instrumen yang sering digunakan dalam penilaian adalah skala
Thurstone, skala Likert, dan skala Beda Semantik. Skala Thurstone terdiri dari
7 kategori yang paling banyak bernilai 7 dan yang paling kecil bernilai 1.
d.
Menentukan sistem penskoran.
Sistem
perskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran yang digunakan.
Apabila menggunakan skala Thurstone maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan
skor terendah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik tertinggi
7 dan terendah 1. Untuk skala Likert skor tertinggi 4 dan skor terendah 1.
Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada
kategori 3 untuk skala Likert, untuk mengatasi hal ini skala Likert hanya
menggunakan 4 pilihan agar jelas sikap atau minat peserta didik yaitu sangat setuju:4, setuju: 3, tidak
setuju: 2, dan sangat tidak setuju :1.
e. Menelaah instrumen
Kegiatan
menelaah instrumen adalah meneliti tentang: 1) apakah butir pertanyaan atau
pernyataan sesuai dengan indikator, 2) apakah bahasa yang digunakan sudah komunikatif dan menggunakan tata bahasa
yang benar, 3) apakah butir pertanyaan atau pernyataan tidak bias, 4) apakah
format instrumen menarik untuk dibaca, 5) apakah jumlah butir sudah tepat
sehingga tidak menjemukan menjawabnya. Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang
yang diukur. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan
adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. Bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat pendidikan peserta
didik. Hasil telaah ini selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen.
f.
Melakukan uji coba.
Instrumen
yang telah ditelaah kemudian diperbaiki untuk uji coba. Uji coba bertujuan
untuk mengetahui karakteristik instrumen. Karakteristik yang penting adalah
keandalannya. Selanjutnya dihitung keandalannya dengan formula Cronbach alpha,
bila besarnya indeks sama atau lebih besar dari
0,7 maka instrumen itu tergolong baik.
g.
Menganalisis instrumen.
Berdasarkan
hasil uji coba dapat diketahui kualitas instrumen tersebut. Dengan demikian
dapat dilakukan perbaikan-perbaikan jika masih ada pertanyaan atau pernyataan
yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Ada kemungkinan pertanyaan sudah baik
sehingga tidak perlu diperbaiki, dan ada beberapa butir yang mungkin perlu
diperbaiki dan mungkin ada sebagian yang harus dibuang karena tidak baik.
h.
Merakit instrumen.
Setelah
instrumen dianalisis dan diperbaiki, langkah berikutnya adalah merakit
instrumen menjadi satu keseluruhan.
i.
Melaksanakan pengukuran.
Instrumen
yang telah disusun diberikan kepada peserta didik untuk diisi. Dalam
pelaksanaan ini perlu dipantau agar instrumen itu betul-betul diisi oleh
peserta didik yang bersangkutan dengan jujur dan sesuai dengan ketentuan.
Pelaksanaan pengukuran ini perlu dilaksanakan secara hati-hati agar tujuan
pengukuran dapat tercapai.
j.
Menafsirkan hasil pengukuran
Setelah
dilakukan pengukuran, selanjutnya dilakukan analisis untuk tingkat individu dan
tingkat kelas dan ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui misalnya minat individu
dan minat kelas terhadap mata pelajaran Akuntansi. Untuk menafsirkan hasil
pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung dari
skala dan jumlah butir yang digunakan. Misalkan digunakan skala Likert dengan 4
pilihan untuk mengukur sikap peserta didik yaitu: sangat setuju: 4, setuju:3,
tidak setuju:2, dan sangat tidak setuju: 1. Instrumen yang telah diisi dicari
skor keseluruhannya sehingga tiap peserta didik memiliki skor.
C.
Penutup
Afektif
merupakan perasaan dan emosi. Ada empat karakteristik afektif yang penting
dalam pembelajaran adalah: (1) minat, 2) sikap, 3) konsep diri, dan 4) nilai.
Instrumen afektif bertujuan: 1) untuk
memperoleh informasi terhadap minat
peserta didik terhadap pelajaran Akuntansi yang selanjutnya digunakan untuk
meningkatkan minat peserta didik
terhadap mata pelajaran Akuntansi jika minatnya rendah, 2) untuk
mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran Akuntansi, hasil
pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat
untuk peserta didik, 3) untuk mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri sendiri, informasi ini dapat digunakan untuk
menentukan program yang sebaiknya ditempuh peserta didik untuk menentukan
jenjang karir dan 4) untuk mengungkap nilai individu, informasi
yang diperoleh ini berupa nilai yang
positif dan yang negatif, hal-hal yang positif diperkuat dan yang
negatif diperlemah dan akhirnya dihilangkan.
Pengukuran
afektif dapat dilakukan dengan angket dan pengamatan. Terdapat sepuluh langkah
yang harus diikuti dalam pengembangan instrumen afektif: 1) menentukan
spesifikasi instrumen, 2) menulis instrumen, 3) menentukan skala pengukuran, 4)
menentukan sistem penskoran, 5) menelaah instrumen, 6) melakukan uji coba, 7)
menganalisis instrumen, 8) merakit instrumen, 9) melaksanakan pengukuran, dan
10) menafsirkan hasil pengukuran.
Daftar
Pustaka
Anas Sudijono. 2005.
Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Djemari Mardapi. 2004. Penyusunan Tes Hasil
Belajar. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Nana Sudjana. 2008.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Pusat Kurikulum Model
Penilaian Kelas Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balitbang
Depdiknas.
Suharsimi Arikunto
(2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukardi (2008). Evaluasi Pendidikan Prinsip &
Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.
Zaenal Arifin. 2009.
Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik. Prosedur. Bandung: Remaja
Rosdakarya
permasalahan : ada empat karakteristik afektif yang penting dalam pembelajaran yaitu: (1) minat, 2) sikap, 3) konsep diri, dan 4) nilai. Menurut teman-teman sebagai pengajar apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan minat dan konsep diri siswa dalam mengikuti pembelajaran?
permasalahan : ada empat karakteristik afektif yang penting dalam pembelajaran yaitu: (1) minat, 2) sikap, 3) konsep diri, dan 4) nilai. Menurut teman-teman sebagai pengajar apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan minat dan konsep diri siswa dalam mengikuti pembelajaran?
Komentar
Posting Komentar